Banjarmasin – Saat istri meIMG_20160227_121730milih berkarir, harusnya sudah ada kompromi dan kesepakatan yang diatur bersama dalam rumah tangga, terutama dalam pendidikan anak. Dapat dimaklumi apabila istri lebih memilih berkakrir untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, namun jangan sampai anak yang menjadi korban, sehingga hak hak anak untuk mendapatkan kasih sayang dilupakan. Idealnya, istri berperan optimal di rumah tangga untuk melayani kebutuhan suami dan anaknya. Tidak dipungkiri, kegiatan di luar rumah jauh lebih menyenangkan daripada harus berkutat dengan urusan rumah tangga yang tidak ada habisnya, karena itu dengan alasan mencari uang, maka banyak wanita yang lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bekerja daripada di rumah. Oleh karena itu, harapannya wanita tidak melupakan kodrat ya sebagai ibu dan juga istri, sehingga bisa memanagement waktunya dalam urusan rumah tangga. Berumah tangga tidak merupakan keharusan, karena usia yang cukup. Begitu pula mempunyai anak. Butuh kesiapan dan komitmen dalam menjalani. Diperlukan pengorbanan yg luar biasa dalam menjalani peran sebagai ibu.

Penitipan anak, anak dititipkan padaorang tua, seringkali menjadi solusi instan agar ayah dan ibu dapat konsentrasi dalam pekerjaannya. Namun, permasalahan akan muncul ketika anak memunculkan perilaku yang mencari perhatian, dikarenakan ia merasakan kurang kasih sayang dari orangtuanya.

Karena itu, untuk memutuskan bekerja, haruslah berpikir berulang kali. Apakah sepadan, hasil yang didapatkan dengan hilangnya kebersamaan dengan anak, dan kesempatan untuk membesarkan secara optimal. Orangtua adalah madrasah pertama anak, karena itu perlu pendidik yang layak untuk mendampingi anak. Namun, apabila ibu dapat secara optimal mengatur waktu, tentunya menjadi ibu rumah tangga bisa dilakukan sembari bekerja.

Metro 28 Feb
Sumber : Rubrik Curhat Metro Banjar, 28 Februari 2015
Share!