JehanBanjarbaru – Saat pekerjaan membuat suami istri menjadi terpisah, sebelum terjadi perpisahan tersebut seharusnya sudah memiliki kesepakatan serta beberapa melakukan antisipasi pada beberapa hal yang kemungkinan besar akan muncul. Misalnya pengasuhan anak, adanya rasa rindu yang muncul, serta kesiapan suami/istri yang harus mengurus rumah tangga sendiri. Kesiapan ini pemtig, dimana saat istri harus ditinggal suami, maka ia pun harus berperan sebagai ayah bagi anaknya, serta sebaliknya. Apabila kesepakatan tidak dapat dicapai, tentunya hal ini akan terus menjadi pemicu berbagai pertengkaran.

Begitu pula soal pertemuan, maksimalkan waktu secara berkualitas bersama keluarga, pada saat bersama. Tinggalkan dulu urusan pekerjaan, hingga waktu kembali bekerja. Ingatlah bahwa anda bekerja untuk keluarga, jangan sampai pekerjaanlah yang memisahkan anda dengan keluarga. Komunikasi harus terjalin sesering mungkin. Ingatlah moment saat berpacaran dulu, kembalilah bernostalgia, dimana hanya telpon aatau video call mampu membuat anda terus jatuh cinta pada pasangan. Gunakan moment ini untuk menjalin keromantisan saat berpacaran. Ketika anda memandang dari sisi lain, kemungkinan anda akan lebih bisa mensyukuri ketimbang menyesali. Di atas segalanya, harus lah ada kesepakatan, kesiapan, serta kesetiaan yag harus terus terjaga

Sumber : Rubrik Curhat, Metro Banjar, 27 Maret 2016

Untitled

Share!